Sabtu, 28 Juli 2012

Makalah Akidah Akhlak


BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar belakang
  
 Ahlak merupakan cerminan hidup sesorang , kita harus mempelajari ilmu ahklak ini agar menjadi acuan atau pedoman bagi hidup kita. Dengan kita mempelajari ilmu akhlak, etika dan moral kita dapat tahu hal-hal apa saja yang harus kita lakukan dan hindarkan.ilmu ahlak juga bukan hal yang baru, tetapi sudah sangat lama di kaji oleh para pakar di bidang tasawuf, bahkan sebelum tasawuf sebagai ilmu, akhlak manusia sudah ada.

Sekalipun ilmunya belum ajeg, tingkah laku manusia merupakan awal dari lahirnya ilmu akhlak maupun ilmu tasawuf. Hal ini karena karena ilmu itu secara substansial berhubungan dengantingkah laku manusia di lihat secara lahir maupun batin.

B.     Rumusan masalah

1.      Pengertian akhlak
2.      Pengertian etika
3.      Pengertian moral








 BAB II

                                   
PEMBAHASAN


AKHLAK

A.    Pengertian Akhlak

Istilah akhlak sudah sangat akrab di tengah kehidupan kita. Mungkin hampir semua orang mengetahui arti kata “akhlak” karena perkataan akhlak selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Akan tetapi, agar lebih jelas dan meyakinkan, “akhlak” masih perlu untuk diartikan scara bahasa maupun istilah.

Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab, yaitu jama’ dari kata “khuluqun” yang secara linguistik diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata krama, sopan santun, adab dan tindakan. Kata “akhlak” juga berasal dari kata “khalaqa” atau “khalaqun”, artinya kejadian, serta erat hubungannya dengan “kholiq”, artinya menciptakan, tindakan atau perbuatan, sebagaimana terdapat kata “al-khaliq;’, artinya pencipta dan “makhluq’, artinya yang diciptakan.

Sebenarnya, ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan kata “akhlak”, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan). Menurut Ibnu Miskawih (421 H/1030 M), yang dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, imam Al-Ghazali (1015-1111 M), dikenal sebagai hujjatul islam (pembela Islam) karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan, dengan aga lebih luas dari pada Ibnu Miskawih, mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Dari pengertian-pengertian diatas, dapat dipahami bahwa “akhlak” sebenarnya jamak dari kata “khuluqun”, artinya tindakan. Kata “khuluqun” sepadan dengan kata “khalqun”, artinya kejadian dan kata “khaliqun”, artinya pencipta dan kata “mahluqun”, artinya yang diciptakan. Dengan demikian, terminologis dari akhlak merupakan hubungan erat antara khaliq dengan makhluk serta antara mahluk dengan mahluk. (Hamzah Ya’qub, 1993:11)

Definisi-definisi akhlak secara substansial tampak saling melengkapi, dan memiliki lima ciri penting dari akhlak, yaitu:
1.      Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga menjadi kepribadiannya. Dalam artian sudah menjadi kebiasaan.

2.      Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.

3.      Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri seseorang yang melakukannya.
Tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

4.      Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya bukan main-main atau sandiwara. Perbuatan ini umumnya hanya dilakuan satu kali seumur hayat.

5.      Sejalan dengan ciri yang ke empat perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik), akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas karena sematamat Allah SWT bukan karena ingin mendapatkan suatu pujian
 










Artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; bacalah, dan Tuhan mu lah yang menciptakan maha mulia; yang mengajar (manusia) dengan pena; Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq:1-5).

Secara terminologis akhlak adalah tindakan (kreatifitas) yang tercermin pada akhlak Allah SWT yang salah satunya dinyatakan sebagai pencipta manusia dari segumpal darah; Allah SWT. Sebagai sumber pengetahuan yang melahirkan kecerdasan manusia, pembebasan dari kebodohan, serta peletak dasar yanga paling utama dalam pendidikan.

Dengan demikian, secara terminologis pengertian akhlak adalah tindakan yang berhubungan dengan tiga unsur penting yaitu sebagai berikut.

1.      Kognitif, yaitu pengetahun dasar manusia melalui potensi intelektualnya.
2.      Afektif, yaitu pengembangan potensi akal manusia melalui upaya menganalisis berbagai kejadian sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan.
3.      Psikomotorik, yaitu pelaksanaan pemahaman rasional kedalam bentuk perbuatan yang konkrit.

Perumusan “akhlak” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Kholik dan mahluk. Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Quran:




Artinya:
Sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
(QS Al-Qalam:4)




B.     MACAM-MACAM AKHLAK


1.      Akhlak Karimah
Akhlak karimah atau akhlak mulia banyak macamnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a.       Akhlak terhadap Allah, contohnya:Memuji sedemikian agung sifat Allah, yang jengankan manusia malaikatpun tidak akan menjangkau hakikatnya.
b.      Akhlak terhadap diri sendiri, contohnya: Menghindari minuman berakohol, menjaga kesucian diri, hidup sederhana, jujur, dan menghindari perbuatan yang tercela.
c.       Akhlak terhadap sesama manusia, contohnya: Saling tolong menolong dan saling menghargai satu sama lain.

2.      Akhlak mazmumah
Akhlak mazmumah atau akhlak tercela adalah kebalikan dari akhlak baik dalam ajaran Islam agar dapat dipahami dengan benar dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya. Berdasarkan ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak tercela diantaranya:

a.       Berbohong
b.      Takabur
c.       Dengki
d.      Bkhil/kikir


C.    LANDASAN AKHLAK

Landasan normatif  akhlak manusia sebagai individu atau sebagai masyarakat adalah sebagai berikut.

1.      Landasan normatif yang berasal dari ajaran agama Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.
2.      Landasan normatif dari adat kebiasaan atau norma budaya, misalnya masyarakat jawa yang belum mengenal agama Islam, mereka telah meyakini suatu ajaran yang dikenal dengan kejawen.
3.      Landasan normatif dari pandangan-pandangan filsafat. Hasil pemikiran kontemplatif  dalam filsafat telah menyebar  berbagai kehidupan manusia di dunia.
4.      Landasan normatif yang memaksa dan mengikat akhlak manusia, yaitu norma hukum.


D.    TUJUAN AKHLAK

Tujuan akhlak adalah untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengatahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Terhadap perbuatan yang abaik ia akan berusaha melakukannya dan terhadap yang buruk ia akan menjauhinya. Tujuan akhlak juga untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan, beradab, ikhlas, jujur dan suci.


E.     KEDUDUKAN AKHLAK


Akhlak mempunyai kedudukan yang paling penting dalam agama Islam. Antaranya :

1. Akhlak dihubungkan dengan tujuan risalah Islam atau antara perutusan utama Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Pernyataan Rasulullah itu menunjukkan pentingnya kedudukan akhlak dalam Islam.

2. Akhlak menentukan kedudukan seseorang di akhirat nanti yang mana akhlak yang baik dapat memberatkan timbangan amalan yang baik. Begitulah juga sebaliknya. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : "Tiada sesuatu yang lebih berat dalam daun timbangan melainkan akhlak yang baik."

3. Akhlak dapat menyempurnakan keimanan seseorang mukmin. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : "Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya."

4. Akhlak yang baik dapat menghapuskan dosa manakala akhlak yang buruk boleh merosakkan pahala. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : "Akhlak yang baik mencairkan dosa seperti air mencairkan ais (salji) dan akhlak merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu."

5. Akhlak merupakan sifat Rasulullah saw di mana Allah swt telah memuji Rasulullah kerana akhlaknya yang baik seperti yang terdapat dalam al-Quran, firman Allah swt yang bermaksud : "Sesungguhnya engkau seorang yang memiliki peribadi yang agung )mulia)." Pujian allah swt terhadap RasulNya dengan akhlak yang mulia menunjukkan betapa besar dan pentingnya kedudukan akhlak dalam Islam. Banak lagi ayat-ayat dan hadith-hadith Rasulullah saw yang menunjukkan ketinggian kedudukan akhlak dan menggalakkan kita supaya berusaha menghiasi jiwa kita dengan akhlak yang mulia.

6. Akhlak tidak dapat dipisahkan dari Islam, sebagaimana dalam sebuah hadith diterangkan bahawa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw : "Wahai Rasulullah, apakah itu agama?" Rasulullah menjawab : "Akhlak yang baik."

7. Akhlak yang baik dapat menghindarkan seseorang itu daripada neraka sebaliknya akhlak yang buruk menyebabkan seseorang itu jauh dari syurga. Sebuah hadith menerangkan bahawa, "Si fulan pada siang harinya berpuasa dan pada malamnya bersembahyang sedangkan akhlaknya buruk, menganggu jiran tetangganya dengan perkataannya. Baginda bersabda : tidak ada kebaikan dalam ibadahnya, dia adalah ahli neraka."

-Salah satu rukun agama Islam ialah Ihsan, iaitu merupakan asas akhlak seseorang muslim. Ihsan iaitu beribadat kepada allah seolah-olah kita melihatNya kerana walauun kita tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihat kita.

F.     MANFAAT MEMPELAJARI AKHLAK

Berkenaan dengan manfaat mempelajari ilmu akhlak, Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut. Dengan mempelajari ilmu akhlak kita dapat menetapkan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Bersikap saling menghargai termasuk perbuatan baik, sedangkan perbuatan bakhil atau kikir ialah perbuatan buruk. Seorang yang mempelajari ilmu ini akan memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik dan buruk, selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktifitas kehidupan manusia disegala bidang.







ETIKA

Pengertian Etika

Kata “etika”berasal dari bahasa yunani, yaitu “ethos”, artinya adat kebiasaan. Etika merupakan istilah lain dari akhlak atau moral, tetapi memiliki substansial karena konsep akhlak berasal dari pandangan agama terhadap tingkah laku manusia; konsep etika pandangan tentang tingkah laku manusia dalam perspektif filsafat, sedangkan konsep moral lebih cenderung dilihat dalam perspektif  sosial normatif dan ideologis.

Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang disistematisasi dari hasil pola pikir manusia. Dalam esklopedia Winkler prins, dikatakan bahwa etika merupakan bagian dari filsafat yang mengembangkan teori tentang tindakan dan alasan-alasan diwujudkannya suatu tindakan dengan tujuan yang telah dirasionalisasi.

Dalam ensiklopedia New American, sebagaimana diuraikan oleh Hamzah Ya’kub (1993:13), etika adalah kajian filsafat moral yang tidak mengkaji fakta-fakta, tetapi meneliti nilai-nilai dan perilaku manusia serta ide-ide tentang lahirnya suatu tindakan.

Dari pandangan filosofis epikuros, dapat di ambil suatu pemahaman tentang arti etika, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai tindakan manusia yang menurut ukuran rasio dinyatakan dan di akui sebagai sesuatu yang substansinya paling benar. Kaidah-kaidah kebenaran dari tindakan digali oleh akal sehat manusia dan distandardisasi menurut ukuran yang rasional, seperti sumber kebenaran adalah jiwa, nilai kebenaran jiwa itu kekal, segala yang tidak kekal pada dasarnya bukan kebenaran substansial.

Etika dapat di artikan dengan beberapa arti berikut.
1.      Pandangan benar dan salah menurut ukuran rasio.
2.      Moralitas suatu tindakan yang didasarkan pada ide-ide filsafat.
3.      Kebenaran yang sifatnya universaldan eternal.
4.      Tindakan yang melahirkan konsekuensi logis yang baik bagi kehidupan manusia.
5.      Sistem nilai yang mengabadikan perbuatan manusia di mata manusia lainnya.
6.      Tatanan prilaku yang menganut ideologi  yang diyakini akan membawa manusia pada kebahagiaan hidup.
7.      Simbol-simbol kehidupan yang berasal dari jiwa dalam bentuk tindakan konkret.
8.      Pandangan tentang nilai perbuatan baik dan buruk yang bersifat relatip dan bergantung pada situasi dan kondisi.
9.      Logika tentang baik dan buruk suatu perbuatan manusia yang bersumber dari filsafat kehidupan yang dapat diterapkan dalam pengumulan sosial, politik, kebudayaan, ekonomi, seni, perofesionalitas pekerjaan dan pandangan pada situasi dan kondisi.

Dengan definisi-definisi di atas, etika terus dikembangkan secara lebih praktis dan normatif, sehingga dalam kajian akhlak yang dikaitkan dengan agama yang di anut umat manusia, ada yang disebut dengan etika islam, protestan, hindu dan budha. Demikian pula, dalam profesionalitas pekerjaan, dikenal sebagai kode etik kedokteran, pengacara, guru dan dosen

Hidayat Nataatmadja (1983: 8) mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang sedemikian pesatnya sebaiknya dipusatkan pada paradigma yang sama bagi seluruh keilmuan yang di miliki manusia, yang dapat di jadikan tolak ukur kebenaran yang hakiki, yang benar dengan sendirinya, yang diturunkan dari ajaran agama. Paradigma yang paling benar adalah yang di gali dari wahyu yang ilahi, yang telah di teliti dan dikaji secara ilmiah dan memiliki tingkat relevansi  yang akurat dengan sejarah evolusi umat manusia dan perkembangan sains itu sendiri. Paaradigma ilmiah adalah etika yang paling benar dari semua yang di rasionalisasi sebagai kebenaran. Pandangan yang berhubungan dengan pengertian etika di atas, dapat di ambil sebagai suatu pemahaman bahwa etika adalah cara pandang manusia tentang tingkah laku yang baik ataupun buruk, dan dari cara pandang itu dapat digali dari berbagai sumber, kemudian di jadikan sebagai tolok ukur bagi suatu tindakan dengan pendekatan secara rasional dan filosofis.

Beberapa pendekatan yang digunakan untuk menciptakan nilai-nilai suatu tindakan adalah melalui pendekatan filosofis, saintifik dan pendekatan agamis. Dengan tiga jenis pendekatan itu,lahirlah sistem nilai yang kebenarannya berbeda-beda, yaitu sistem nilai yang kebenarannya spekulatif, sistem nilai yang kebenarannya relatif, dan sistem nilai yang kebenarannya abasolut, keberadaanya diwujudkan oleh unsur imanen dan transenden yang diakui oleh umat manusia.


MORAL

Pengertian Moral

Kata “moral” berasal dari bahasa latin “mores” kata jama’ dari “mos” berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia moral diterjemahkan dengan arti tata susila. Moral adalah perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat.

Moral merupakan istilah tentang perilaku atau akhlak yang diterapkan kepada manusia sebagai individu maupun sebagai sosial. Apabila diartikan sebagai tindakan baik atau buruk dengan ukuran adat, konsep moral berhubungan pula dengan konsep adat yang dapat di bagi dalam dua macam adat, yaitu sebagai berikut.
1.   Adat shahihah, yaitu adat yang merupakan moral suatu masyarakat yang sudah lama dilaksanakan secara turun temurun dari berbagai generasi, nilai-nilainya telah disepakati secara normatif dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran yang berasal dari agama Islam, yaitu Al-Quran dan Ass-Sunah.
2.   Adat fasidah, yaitu kebiasaan yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya, kebiasaan melakukan kemusrikan, yaitu memberi sesajen diatas kuburan yang dilaksanakan setiap malam selasa atau malam jum’at. Adat fasidah atau adat yang rusak itu seluruh kebiasaannya yang mengandung kemusrikan. Orang-orang jahiliyah yang mempunyai kebiasaan membunuh anak perempuan yang  hanya dengan alasan anak perempuam tidak menguntungkan, tidak dapat ikut berperang, dan menimbulakan kemiskinan.
Berbicara  tentang moral, berarti berbicara tentang tiga landasan utama terbentuknya moral, yaitu sebagai berikut.
1.      Sumber moral pembuat sumber.
2.      Orang yang menjadi objek sekaligus subjek sumber moral dari penciptanya.
3.      Tujuan moral, yaitu tindakan yang diarahkan pada target tertentu, misalnya ketertiban sosial, keamanan dan kedamaian, kesejahteraan, dan sebagainya.


 PERSAMAAN DAN PERBEDAAN AKHLAK, ETIKA DAN MORAL


Mengenai pengertian akhlak, etika dan moral ketiga istilah tersebut memiliki kesamaan substansial jika dilihat secara normatif karena ketiganya menguatkan suatu pola tindakan yang dinilai baik dan buruk. Istilah akhlak secara sosiologis disama artikan dengan istilah moral, etika, tata susila, tingkah pola, perilaku, sopan santun, tata krama, dan handap asor. Hanya pola yang digunakan didasarkan pada ide-ide yang berbeda. Etika dinilai menurut pandangan filsafat tentang munculnya tindakan dan tujuan rasional dari suatu tindakan. Akhlak adalah wujud dari keimanan atau kekufuran manusia dalam bentuk tindakan sedangkan moral merupakan bentuk tingkah laku yang diidiologisasikan menurut pola hidup bermasyarakat dan bernegara yang rujukannya diambil terutama dari sosial normatif suatu masyarakat, idiologi negara, agama, dan dapat pula dari pandangan-pandangan filosofis manusia sebagai individu yang dihormati, pemimpin dan sesepuh masyarakat.






 BAB III

Kesimpulan

Akhlak merupakan hiasan diri yang membawa keuntungan bagi yang mengerjakannya ia akan disukai Allah dan disukai umat manusia dan mahluk lainnya. Kita juga menjadi tahu akhlak yang baik dan yang buruk. Dengan demikian kita berusaha melakukan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang buruk, sehingga kita dapat berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini.












Daftar Pustaka






Juhaya. S. Praja. Ilmu  Akhlak. Bandung:  Pustaka Setia. 2010.

Rahman Ritonga. Akhlak Merakit Hubungan Dengan Sesama Manusia.Surabaya: Amelia. 2005.

WWW.Wikipedia.com. Pengertian Akhlak.

Landasan Akhlak – Islam Wiki http://islamwiki.blogspot.com/2009/01/landasan akhlak.html#ixzz1YGkDFD9b



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar